Minggu, 23 Agustus 2020

Liburan ke Gresik, Kurang Lengkap Tanpa Oleh - Oleh Ini

GRESIK – Ketika berkunjung di Gresik maka tidak bisa terlepas sebagai image kota santri dan juga salah satu destinasi wisata religi karena terdapat dua makam Wali Songo yakni Syaikh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri.

Diperkirakan setiap tahunnya terdapat jutaan orang mengunjungi dua kompleks wisata religi tersebut. Tak hanya itu, beberapa destinasi wisata lainnya semakin banyak dikunjungi setelah viral di sosial media seperti Giri Kedaton, Alun – Alun Gresik, Pantai Delegan, Setigi, dan Wagos.

Bahkan belakangan destinasi wisata di Pulau Bawean mulai banyak dilirik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Selain dienal sebagai kota santri, Gresik juga dikenal dengan kota industri. Kota yang berada di utara Kota Surabaya ini juga dikenal sebagai kota warung kopi atau warkop. Hal ini tidak terlepas dari budaya masyarakat Gresik yang cangkrukan.

Salah satu inisiator warung kopi adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim yang menjadikan warung kopi sebagai tempat berdakwah pada abad ke-13.

Namun kurang lengkap ke Gresik jika belum membeli Kobiku. Nama Kobiku merupakan sebuah brand UMKM lokal yang diambil dari singkatan kopi biji kurma. Kobiku sendiri merupakan produk olahan biji kurma yang diproses sedemikian rupa layaknya pengolahan biji kopi namun dengan proses yang lebih rumit dan lama. 

Kobiku dicetuskan oleh Wahyu Firmansyah, pemuda kelahiran Gresik yang sudah memulai usahanya sejak tahun 2014.

Hingga saat ini produk ini terus eksis, bahkan sudah terjual hingga ke mancanegara. Produk Kobiku dijual di industri rumahan di Jalan Raden Sntri 1B No. 1, Kelurahan Bedilan, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik atau sekiar 100 meter arah barat laut Alun – Alun Gresik atau bisa juga dibeli secara online dengan klik disini

Jumat, 17 Juli 2020

Kobiku Indonesia Maksimalkan Sosial Media Cegah Penularan Pandemi Covid-19


Kobiku Indonesia turut aktif menanggulangi pandemi covid-19 di Indonesia. Upaya ini dilakukan dengan cara mengedukasi masyarakat melalui sosial media.

Owner Kobiku, Wahyu Firmansyah mengatakan bahwa edukasi kepada masyarakat tentang bahaya pandemi covid-19 dan pencegahannya terus dilakukan.

“Sejak covid-19 mulai masuk ke Indonesia, kami bersama jejaring partner media publik Kobiku terus melakukan edukasi tentang covid-19 dan pencegahannya melalui sosial media.” Ungkap Wahyu, Jumat (17/7/2020)

Dirinya berharap, dengan desain konten yang menarik membuat masyarakat lebih mudah memahami. Facebook, Instagram, dan Twitter dipilih sebagai platform karena dinilai menjadi sosial media yang paling banyak digunakan di Indonesia saat ini.

Tak hanya itu, tim Kobiku juga turut aktif terjun ke lapangan dalam menekan jumlah penyebaran covid-19 dengan melakukan penyemprotaan desinfektan ke rumah ibadah, menyalurkan bantuan masker, serta menyalurkan donasi nasi bungkus kepada masyarakat pra sejahtera di Gresik.

Kamis, 09 Juli 2020

Menikmati Kobiku, Minuman Khas Gresik yang Kaya Manfaat


Bila datang ke Gresik, Jawa Timur, rasanya belum lengkap jika belum membeli kopi biji kurma Kobiku. Kopi khas Gresik ini merupakan inovasi warga Gresik yang sangat unik.

Kobiku sendiri merupakan merk dagang yang diambil dari singkatan kopi biji kurma. Berbeda dari kopi pada umumnya, Kobiku berasal dari biji kurma yang diproses layaknya engolahan biji kopi namun dengan tahapan yang lebih rumit dan detail.

Cara penyajian Kobiku sama dengan kopi pada umumnya yakni diseduh dengan air mendidih, bisa juga ditambahkan pemanis seperti gula, madu, atau sari kurma.


Cita rasa Kobiku merupakan perpaduan antara pahit, asam, dan manis namun non kafein jadi sangat aman untuk lambung. Bubuk Kobiku cenderung lebih gelap namun seduhannya berwarna lebih terang dibanding kopi pada umumnya. Aromanya sangat identik dan mengoda.

Kobiku bisa dibeli di Jalan Raden Santri 1B No.1, Kelurahan Bedilan, Kecamatan Gresik. Atau bisa beli online dengan klik disini. Kobiku merupakan produk inovasi arek Gresik bernama Wahyu, seorang sarjana Teknik Kimia yang pada mulanya iseng menguji lab kopi biji kurma. Saat ini produk Kobiku sudah menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia dan juga Malaysia karena diketahui Kobiku memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.


Minggu, 24 Mei 2020

5 Oleh - Oleh Khas Gresik Paling Diminati

Saat kamu mengunjungi suatu daerah wisata, rasanya tak afdol sebelum pulang tidak membeli oleh oleh khas daerah tersebut. Dan untuk alasan itulah sepertinya dalam budaya orang Indonesia ada semacam kewajiban tak tertulis untuk membeli oleh-oleh saat kembali dari plesir atau bepergian, baik itu berupa souvenir, pernak-pernik, hingga makanan khasnya yang akan kamu bagikan saat tiba di rumah untuk keluarga ataupun sahabat.

Saat berkunjung ke Gresik, kamu pasti akan banyak menemukan tempat yang menjual aneka makanan khas Gresik sebagai oleh-oleh yang enak dan murah. Nah, berikut 5 daftar jenis oleh-oleh khas Gresik yang murah, enak, terkenal, dan tentunya wajib untuk kamu bawa pulang.

 

1.        Pudak


Pudak adalah makanan atau kue Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Indonesia. Makanan ini terbuat dari bahan tepung beras, gula pasir/gula jawa dan santan kelapa yang dimasukkan kemasan yang disebut "Ope" yaitu pelepah daun pinang.

Lokasi : Jalan A.K.S. Tubun, Jalan Sindujoyo, Jalan Veteran

 

2.        Nasi Krawu


Nasi krawu merupakan makanan khas dari daerah Gresik, Jawa Timur. Cirinya adalah nasinya yang pulen dan disajikan dengan daun pisang. Lauknya dapat berupa sayatan daging sapi, semur daging, jeroan sapi, sambal terasi dan serundeng.

Lokasi : Jalan Raden Santri, Jalan KH. Abdul Karim, Jalan Panglima Sudirman

 

3.        Otak - otak


Otak – otak bandeng adalah cincangan daging bandeng yang memiliki rasa yang sangat unik selain empuknya dan gurihnya, karena di bagian dalamnya ada terdapat bumbu-bumbu khas nusantara yang diolah bersama daging bandeng yang sudah bersih dari duri.

Lokasi : Jalan Sindujoyo, Jalan Veteran (088996903278)

 

4.        Jubung


Jubung adalah jajanan mirip jenang terbuat dari ketan hitam yang di taburi wejan. Biasanya Jubung ditempatkan dalam selongsong warna putih kecoklatan yang terbuat dari daun pohon pinang muda yang di lilit mirip gelas mini.

Lokasi : Jalan Sindujoyo

 

5.        Kobiku


Kobiku adalah produk olahan biji kurma yang diproses seperti pembuatan bubuk kopi, namun melalui beberapa proses yang lebih rumit. Selain memiliki cita rasa dan aroma yang khas, Kopi biji kurma Kobiku memiliki beberapa khasiat yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Lokasi : Jalan Raden Santri 1B no.1, Bedilan, Gresik. (085749647467)

 


Pasar Bandeng, Tradisi Malam 27 Ramadhan di Gresik

(Foto : @wahyufirsyah)
 

Pasar Bandeng merupakan tradisi menjelang lebaran di kota Gresik yang dilaksanakan pada malam 27 hingga malam 29 Ramadhan. Berdasarkan catatan sejarah, mulanya pasar bandeng hadir untuk memenuhi kebutuhan para santri Sunan Giri di pondok pesantren Giri Kedaton, saat ini dikenal dengan Desa Sidomukti Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik.

                Tradisi mudik menjelang lebaran dan pulang ke kampong halaman untuk berlebaran, umumnya dimanfaatkan para santri turun bukit menuju Kota Gresik untuk mencari oleh-oleh yang menjadi khas Gresik. Kala itu olahan bandeng menjadi khas Gresik sehinngga banyak santri yang memilih bandeng untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Sumber lain menyebutkan, Pasar Bandeng dikaitkan dengan sejarah perjalanan Sunan Giri pada malam terakhir bulan Ramadan. Saat itu, Sunan Giri melanjutkan perjalanan dari Giri ke sebuah mushalla di sekitar Pasar Gresik sekarang. Pengikut Sunan Giri yang berjumlah banyak itu kemudian membuat pasar dadakan yang konon banyak memperjualbelikan ikan Bandeng. 

Adapula yang menyebutkan bahwa tradisi Pasar Bandeng mulai dikenal masyarakat luas hingga luar pulau pada masa Syekh Djalaluddin (Buyut Senggulu) sekitar tahun 1600 yang merupakan ulama keturunan Sunan Giri. Hal ini terjadi dengan adanya hubungan antara Gresik dan Palembang yakni dari keluarga Kyai Qomis (Palembang) menantu Buyut Senggulu yang bersilaturahmi kepada Syekh Djalaluddin (Buyut Senggulu) setiap menjelang lebaaran.

Umumnya bandeng yang dijual merupakan bandeng segar yang baru dientas (diambil) dari tambak. Setiap tahunnya gebyar pasar bandeng ini selalu diramaikan dengan acara pelelangan. Bandeng yang akan dilelang mulai dari ukuran sedang hingga bandeng besar hingga kawak. Khusus bandeng kawak satu ekor beratnya bisa mencapai lebih dari 10 kg. Bukan hal mengherankan apabila harganya mencapai jutaan rupiah. Saat ini bukan hanya ikan bandeng yang diperjualbelikan, namn juga dimeriahkan dengan jual beli barang kebutuhan lainnya seperti pakaian, makanan, mainan anak-anak, perlengkapan ibadah, hewan peliharan, hingga aksesoris.

                Kegiatan rutinan setiap tahun yang telah dilangsungkan selama ratusan tahun di kota Gresik ini selalu diadakan mulai dari jalan Raden Santri (Utara alun-alun Gresik) hingga jalan Gubernur Suryo kurang lebih sepanjang 2 kilometer. Dulunya para wisatawan juga menyempatkan diri berbuka dan Sholat Tarawih di Masjid Jamik Gresik selanjtnya menyempatkan diri berziarah ke makam Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Sayyid Ali Murtadho (Sunan Gisik), Nyai Ageng Pinatih (Ibunda Asuh Sunan Giri), serta masih banyak kompleks pemakaman Waliyullah yang letaknya saling berdekatan di area Pasar Bandeng.

Riyoyoan (Lebaran dalam bahasa Gresik) kurang lengkap rasanya sebelum adanya hidangan masakan bandeng di rumah. Terlebih hidangan masakan bandeng umumnya juga dibawa ke langgar, surau, atau musholla terdekat sebagai syukuran dan nantinya akan dimakan bersama masyarakat dalam sebuah lengser atau talam  (Semacam piring raksasa). Semakin lengkap nuansa lebaran dengan saling berbagi dan bersilaturrahmi.

 


Sabtu, 16 Mei 2020

Malem Selawe, Tradisi Malam 25 Ramadhan di Gresik

(Foto : @wahyufirsyah)


“Sesungguhnya kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan. Dan taukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

(QS. Al-Qadr)

 

Dari Siti Aisyah radiyallahu ‘anha, dia berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan” dan beliau bersabda, “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.”

(HR Bukhari dan Muslim)

 

Tradisi malam selawe atau malam menjelang 25 Ramadhan merupakan puncak bagi peziarah yang datang ke Makam Sunan Giri yang berlangsung ratusan tahun. Para peziarah yang terdiri dari anak kecil, remaja, orang tua, hingga lanjut usia dari berbagai kalangan  ini tak hanya datang dari daerah Gresik dan kota sekitarnya, akan tetapi dari luar daerah bahkan luar pulau maupun luar negeri.

 

Hingga saat ini masih sangat banyak masyarakat yang memusatkan ibadahnya di Masjid Jamik Sunan Giri, mulai dari Sholat Sunnah, tadarus Al Qur’an, I’tikaf, maupun ibadah lainnya tepat .

 

Mulanya Tradisi Malam Selawe merupakan puncak kegiatan ibadah yang dilakukan Sunan Giri beserta para santrinya yang dipusatkan di Masjid Jamik Sunan Giri sebelum kepulangan para santri menuju kampung halaman untuk lebaran.

 

Tak hanya itu santri yang tidak menetap di Giri yang berada di daerah sekitar banyak yang bersilaturahmi sekaligus beribadah di Masjid Jamik Sunan Giri untuk berburu keberkahan Lailatul Qadar. Tradisi ini terus  berlangsung hingga wafatnya Sunan Giri sampai saat ini dengan tujuan memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan, tak hanya itu para santri dan masyarakat juga menyempatkan diri berziarah ke makam Sunan Giri.


Selain memusatkan ibadah untuk mendapatkan keberkahan Lailatul Qadr, banyak masyarakat yang juga berziarah ke makam Sunan Giri di Desa Giri, makam Sunan Prapen di Desa Klangonan (300 meter barat kompleks makam Sunan Giri) dan menikmati keindahan serta meneladani bukti semangat perjuangan penyebaran agama Islam di Giri Kedaton yang merupakan pondok pesantren sekaligus istana yang dibangun oleh Sunan Giri untuk menyebarkan agama Islam. Letaknya sekitar 500 meter barat laut makam Sunan Giri.


Banyaknya peziarah dimanfatkan ratusan PKL mengais rezeki di sepanjang jalan Sunan Giri hingga jalan Sunan Prapen. Mereka berjualan pakaian, makanan, minuman, jajanan khas Giri, jajanan khas Gresik, aksesoris, dan lain-lain.

 

Do’a Malam Lailatul Qadr

Allahumma Innaka ‘Afuwwun, Tuhibbul ‘Afwa, Fa’fu ‘Anna yaa Allah yaa Karim…

 


Jumat, 15 Mei 2020

Kolak Ayam Sanggring, Tradisi Malam 23 Ramadhan di Gresik

(Foto : @aditongel)


Di Gresik ada sebuah desa bernama Gumeno Kecamatan Manyar, terdapat tradisi membuat kolak ayam setiap menjelang malam ke-23 Ramadan. Menurut catatan sejarah, tradisi pembuatan kolak ayam di malam ke 23 Ramadan ini bermula saat Sunan Dalem (Putra Sunan Giri) yang merupakan Sultan kedua Giri membangun Masjid Jamik Gumeno yang dijadikan sebagai pusat dakwah penyebaran agama Islam di daerah Gumeno.

 

Suatu ketika Sunan Dalem mengalami sakit yang tidak diketahui jenis penyakitnya, bahkan tak satu pun jenis obat yang mampu menyembuhkan Sunan Dalem dari sakitnya. Akhirnya Sunan Dalem melakukan Sholat Istikharah sehingga Sunan Dalem mendapat petunjuk dari Allah yang tepat pada malam ke 23 bulan Ramadhan.

 

Seketika itu Sunan Dalem meminta kepada para santrinya untuk menyiapkan ayam jago kampung untuk disembelih dan dimasak di masjid menjadi kolak ayam. Atas izin Allah, setelah menyantap hidangan kolak Ayam Sunan Dalem sembuh dari penyakitnya. Sejak saat itu tradisi malam ke 23 Ramadhan dijadikan sebagai sedekah Kolak Ayam sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas sembuhnya Sunan Dalem.

 

Penduduk Desa Gumeno membuat kolak ayam setiap malam 23 Ramadan dan dijadikan sedekah untuk menu santap berbuka puasa. Bahkan tradisi acara memasak kolak ayam ini telah berlangsung selama 5 abad lebih. Ternyata tidak hanya warga setempat yang menikmati sajian kuliner kolak ayam, beberapa warga dari luar kabupaten seperti Surabaya, Tuban, Lamongan, Bojonegoro, dan lainnya banyak yang datang di desa tersebut. Penikmat kolak ayam begitu menikmati rasa khas santan kolak ayam yang terasa "legi" (manis dicampur gurih dari kaldu ayam), sajian ini juga lebih nikmat lagi jika ditambah dengan ketan.

 

Untuk membuat kolak ayam itu sendiri dibutuhkan sekitar 200 ekor ayam jantan, satu kwintal bawang daun, empat kwintal gula merah serta 212 butir kelapa yang seluruh prosesnya dilakukan oleh warga sekitar. Uniknya Kolak Ayam hanya dimasak oleh kaum pria dan dibagikan kepada semua jemaah yang berkumpul di Masjid Jami' Sunan Dalem setelah berbuka puasa. Warga Gumeno yang sudah bermukim di tempat lain akan menyempatkan pulang guna menikmati kolak ayam dengan rasa yang sanngat nikmat dan khas ini.